Biografi KH Muchamad Farkhan Muntaha

KH. Muchamad Farkhan Muntaha bersama para Kiai, Pengurus, dan Tokoh Masyarakat dalam acara Haul Ponpes Al Husna
KH. Muchamad Farkhan Muntaha bersama para Kiai, Pengurus, dan Tokoh Masyarakat dalam acara Haul Ponpes Al Husna


PONPESALHUSNA.COM - KH. Muchamad Farkhan Muntaha, yang biasa dipanggil Abah Farkhan, lahir di Desa Brengkok RT 04 RW 01, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 10 Agustus 1971. Sejak usia tiga tahun, Abah Farkhan sudah menunjukkan minat yang besar terhadap agama dengan mendengarkan cerita-cerita nabi dan rasul dari Kiai Haji Sumarkot Sirojudin, seorang Kiai di Desa Brengkok. Setelah usia lima tahun, Abah Farkhan mulai belajar hafalan sholat dan membaca huruf Arab. Pada usia tujuh tahun, beliau mulai bisa membaca Al-Qur'an dan mengikuti sekolah di SD Negeri 2 Brengkok. Abah Farkhan menunjukkan bakat dalam membaca Al-Qur'an secara tartil dan fasih, sehingga sering dijadikan qori dalam berbagai acara keagamaan masyarakat.

Setelah tamat SD pada usia 13 tahun, Abah Farkhan merantau ke Sumatera dalam rangka mencari nafkah sekaligus menyiapkan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap menjunjung tinggi semangat belajar dan ibadah. Sepulang dari Sumatera, ia bertemu kembali dengan Kiai Haji Sumarkot Sirojudin, dan atas saran beliau, Abah Farkhan melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Raudlatul Asmuiyyah Purbalingga. Setelah menamatkan kitab Fiqih Fathul Qorib, beliau kemudian diarahkan untuk mendalami Ilmu Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin Kesugihan, Cilacap. Di pesantren inilah ia menimba ilmu secara intensif di bawah bimbingan langsung dua ulama besar, yaitu K.H. Mustolih Badawi dan K.H. Hasbulloh Badawi. 

Gaya kepemimpinan Abah Farkhan di kemudian hari banyak dipengaruhi oleh kedua gurunya tersebut. K.H. Mustolih Badawi dikenal sebagai sosok ulama yang sangat disiplin, tegas, dan mengutamakan adab serta keteladanan dalam mendidik santri. Nilai-nilai ketegasan dalam prinsip dan kesungguhan dalam mendidik yang kini diterapkan Abah Farkhan merupakan cerminan dari gaya kepemimpinan K.H. Mustolih. Sementara itu, K.H. Hasbulloh Badawi memiliki karakter kepemimpinan yang penuh kasih sayang, bijaksana, dan memperhatikan perkembangan santri secara individual. Sifat kepedulian dan perhatian personal kepada santri yang sering ditunjukkan oleh Abah Farkhan dalam kesehariannya merupakan warisan pendidikan dari beliau. Kombinasi ketegasan dan kelembutan ini membentuk gaya kepemimpinan Abah yang khas, tegas dalam prinsip, namun hangat dalam pembinaan.

Setelah menimba ilmu, Abah Farkhan melanjutkan perjalanan ke Jawa Barat dan Jawa Timur untuk memperdalam ilmu hikmah sebagai bekal dalam menghadapi tantangan sosial di masyarakat. Pada tahun 1999, beliau kembali pulang dan menetap di Desa Brengkok. Karena sudah dikenal sejak kecil sebagai sosok yang tekun belajar agama, masyarakat bersama para Kiai setempat, terutama Kiai Haji Sumarkot Surojudin, serta atas persetujuan kepala desa, sepakat mengangkat beliau sebagai imam dan khatib di Masjid Darul Mutaqin Desa Brengkok. Kemudian atas dorongan para ulama dan masyarakat, Abah Farkhan mendirikan Pondok Pesantren Al-Husna, yang menjadi pusat pendidikan agama dan pembinaan akhlak bagi anak-anak dan remaja di sekitarnya. Pondok ini menjadi wadah bagi Abah Farkhan untuk meneruskan nilai-nilai kepemimpinan dan pendidikan yang telah diwariskan oleh para guru besarnya.[***]

Disclaimer: Biografi KH. Muchamad Farkhan Muntaha dikutip dari karya ilmiah skripsi berjudul “Kepemimpinan Kiai Pondok Pesantren Al-Husna Desa Brengkok Kabupaten Banjarnegara dalam Bidang Peningkatan Mutu Lulusan” ditulis oleh Lina Muslimah.

OlderNewest

Post a Comment